Pelatihan Jurnalistik Radio Komunitas

00:27 1 Comment »
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kru Radio Komunitas di bidang jurnalistik, Radio Komunitas Caraka FM bekerjasama dengan Fahmina Institute-Cirebon dan Combine Resource Institution-Yogyakarta menyelenggarakan "Pelatihan Jurnalistik Radio Komunitas", pelatihan yang mengangkat tema "Menumbuhkan Peran Masyarakat Terhadap Radio Komunitas" ini dilaksanakan pada tanggal 11 dan 12 Juli 2008 bertempat di Radio Komunitas Caraka FM, Jalan Olahraga No. 39 Desa Ciborelang Kec. Jatiwangi Kab. Majalengka - Jawa Barat.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari Komunitas se Wilayah III Cirebon dengan jumlah peserta sekitar 30 orang. Agenda kegiatan pelatihan tersebut diantaranya Bagaimana Menulis News/berita Reportase/Liputan Radio Komunitas (prinsip, teknis, dan contoh-contoh liputan komunitas), Bagaimana membangun jaringan untuk berbagi informasi dan berita antar radio komunitas, Praktek Menulis Berita/News Radio Komunitas, Diskusi Analisis Berita (Isu/konten, bahasa, keberpihakan, dll), Bagaimana Teknis, Cara, dan Prinsip Pencarian berita/News di lapangan/komunitas, Praktik Lapangan (Mencari bahan berita langsung di komunitas/warga Desa Ciborelang), Menyusun News/Berita berdasarkan hasil temuan dilapangan dan Praktek pembacaan Berita/ News secara “On Air” di radio.

Selain kegiatan yang berkaitan dengan jurnalistik, dilaksanakan pula kegiatan Api Unggun yang tujuannya untuk menjalin keakraban dan kebersamaan seluruh peserta yang mengikuti pelatihan.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan para jurnalis dari Radio Komunitas dapat lebih aktif dan sensitif terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di komunitasnya masing-masing.

Ajang Kreatifitas Remaja

21:39 0 Comments »
Sudah hampir 1 tahun Radio Komunitas Caraka FM mengadakan program Local Band On The Air.
Program yang diadakan dalam untuk menampung kreativitas bakat remaja Desa Ciborelang khususnya dan Kabupaten Majalengka pada umumnya dalam bidang musik ini, ternyata mendapatkan respons yang cukup baik.
Dibuktikan dengan adanya partisipasi dari grup band lokal asal Kecamatan Jatiwangi dan Sekitarnya untuk ikut serta dalam program ini.
Sampai saat ini memang baru ada 7 grup band yang ikut serta dalam program ini, namun diharapkan untuk beberapa bulan kedepan jumlah grup band yang mengikuti program ini akan bertambah.
Persyaratan yang ditetapkan kepada grup band yang ingin mendaftarkan diri pada program ini hanyalah dengan mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkan minimal 1 buah lagu yang merupakan ciptaan grup band itu sendiri. Yang selanjutnya lagu grup band bersangkutan akan diputarkan pada acara-acara yang sesuai sebagai lagu pembukaan acara ataupun pada saat ada pendengar yang memang meminta lagu tersebut diputarkan.
Selain dengan memutarkan lagu dari grup band tersebut, diadakan pula wawancara secara on air. Yang maksudnya adalah untuk mengetahui sejauh mana ketertarikan dan respons dari pendengar terhadap perkembangan kreatifitas remaja di bidang musik.
Satu hal yang menjadi hambatan dalam program tersebut adalah mahalnya biaya rekaman untuk sebuah lagu. Tarif yang dikenakan oleh pihak studio musik untuk merekam 1 buah lagu adalah 100.000 (seratus ribu) rupiah, dan hal tersebut menjadi hambatan terutama bagi grup band yang kurang memiliki uang lebih. Karena kebanyakan dari grup band tersebut beranggotakan Siswa/i dari Sekolah Menegah Atas atau Sekolah Menengah Pertama yang kadang-kadang untuk latihan saja mereka harus urunan dengan uang jajan yang mereka kumpulkan berhari-hari.
Tapi kami yakin itu bukan menjadi hambatan bagi mereka untuk berkreasi, hanya mungkin memperlambat waktu mereka untuk "mengenalkan diri" lewat program yang kami tawarkan ini.

Remaja Masih Menjadi Generasi Penerus Bangsa

23:09 Posted In 0 Comments »
Belum lama ini di Kabupaten Majalengka dilaksanakan pengumuman kelulusan terhadap Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Walaupun bukan merupakan akhir dari jenjang pendidikan dan kegiatan menimba ilmu, tapi sebagian besar dari Siswa yang menerima pengumuman kelulusan tersebut menganggap momen tersbut sebagai akhir.
Kesimpulan ini saya ambil karena melihat aksi dan atraksi yang mereka lakukan ketika menerima pengumuman tersebut.
Bagi mereka yang tidak berhasil (lulus) pada tahun ini, tidak ada ekspresi lain yang harus mereka ungkapkan selain menangis, marah, lemah dan berhenti berfikir untuk berjuang terus melanjutkan pendidikan yang memang seharusnya mereka dapatkan.
Sangat mengharukan dan menggemaskan…
Untuk seorang manusia seperti saya, saya benar-benar tidak habis pikir mengapa mereka begitu mudah menyerah dan mengaku kalah hanya karena sebuah kesuksesan yang tertunda? Hati saya menjerit keras seakan ingin sekali memaki dan memarahi mereka yang tenggelam dalam air mata mereka sendiri, karena sebuah kegagalan.
Ekspresi dan atraksi lain disuguhkan oleh mereka yang sedang merasakan kegembiraan karena mereka dinyatakan lulus.
Tetapi yang sangat disayangkan adalah, cara yang mereka lakukan untuk meluapkan kegembiraan mereka tetap mengundang sikap tidak simpatik dari masyarakat sekitar.
Dimulai dengan mencoret-coret baju seragam (yang sebaiknya disumbangkan), konvoi berkeliling kota yang mengakibatkan gangguan terhadap kelancaran lalu lintas dan bahkan sering mengakibatkan kecelakaan, dan finalnya yaitu mengkonsumsi minuman keras yang tidak pernah diajarkan atau menjadi ekstra kulikuler di sekolah.
Mungkin di sekolah harus ada satu mata pelajaran tentang Struggle alias Perjuangan dan Obstinacy alias Kegigihan, minimalnya untuk memberi pelajaran kepada kaum muda belia Indonesia bagaimana untuk menghadapi kegagalan dan siap untuk bangkit dari kegagalah dengan cara yang benar.
Remaja masih menjadi harapan bangsa…
Pastilah kita juga akan mengakui kebenaran dari kalimat tersebut. Karena seiring dengan berjalannya waktu, akan terjadi masa transisi dimana generasi yang sudah tua akan tergeserkan posisinya oleh generasi yang lebih muda, karena faktor produktivitas, daya pikir dan lain sebagainya (walaupun tidak semua orang yang sudah berusia lanjut berhenti berkarya dan berpikir).
Dengan demikian, generasi muda dituntut untuk bisa menjadi pengganti dari generasi pendahulunya (mau ataupun tidak mau, siap ataupun tidak siap).