Ribut Salah, Diam Tambah Salah

21:45 Posted In , , 0 Comments »
Flu Burung atau Avian Influenza (AI) sudah bukan sesuatu yang asing di telinga kita, bahkan sampai di pelosok Desa pun Flu Burung bukan merupakan sesuatu yang aneh lagi untuk didengar.
Penyakit yang diakibatkan oleh Virus H5N1 ini menjadi salah satu wabah yang sangat menggemparkan, pasalnya ternak dan manusia yang terjangkit Flu Burung tidak dapat bertahan lama umurnya dan selalu berakhir dengan kematian.
Kerugian yang dialami akibat AI pun sangat besar, mulai dari angka kematian ternak yang tinggi, sampai dengan hilangnya nyawa manusia.
Pemerintah pun tidak henti-hentinya mengkampanyekan perang terhadap wabah yang satu ini, bahkan di media cetak dan elektronik selalu terselip iklan layanan yang berisikan tentang pencegahan dan penanggulangan AI, agar masyarakat dapat bersikap lebih waspada dan juga bisa melakukan pencegahan dini terhadap penyebaran virus Avian Influenza.
Lalu bagaimana pengaruh dari gencarnya pemberitaan tentang Flu Burung terhadap usaha peternakan unggas terutama yang dilaksanakan dalam skala kecil (di rumah)?
Bagi pedagang yang sehari-harinya mengandalkan nafkahnya dengan menjual ayam baik itu berupa daging ataupun ayam hidup, gencarnya berita tentang flu burung tentu saja menjadi satu masalah tersendiri. Bagaimana tidak, dengan banyaknya berita tentang ganasnya flu burung tersebut baik secara langsung maupun tidak sudah membawa dampak yang kurang baik terhadap penjualan daging dan ternak terutama ternak ayam.
Dengan maraknya wabah flu burung (Avian Influenza) yang menyerang pada manusia dan mengakibatkan meninggalnya penderita flu burung, menyebabkan kurangnya minat masyarakat terhadap budi daya ternak unggas. Sebaliknya banyak masyarakat merasa takut apabila ada ternak unggas di sekitarnya, sehingga berpengaruh terhadap penjualan.
Juhana misalnya, warga Desa Loji Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka itu selama kurang lebih 12 tahun sudah menggantungkan hidupnya dari berjualan ayam. Tiap hari Juhana selalu berkeliling untuk mencari ayam dari penduduk ataupun bandar besar untuk kemudian dijual kembali di pasar Ciborelang Kecamatan Jatiwangi.
Sebelum terjadi flu burung, Juhana bisa menjual 8 sampai 13 ekor per hari, namun semenjak flu burung mulai merebak Juhana hanya bisa menjual 5-6 ekor saja perharinya, tentu saja hal ini menyebabkan turunnya pendapatan yang diperolehnya tiap hari.
Mungkin terdengar berlebihan jika pemerintah harus memikirkan bagaimana nasib seorang Juhana saja, tapi bagaimana jika di negara kita ini terdapat berjuta-juta warganya yang berprofesi sama dengan Juhana? tentu saja akan lain ceritanya.
Lalu langkah apa yang sebaiknya diambil untuk mencegah dan memberantas sekaligus mengurangi kecemasan masyarakat akan flu burung? Tidak ada jawaban pasti.
Hanya saja jika dinas dan instansi terkait bisa aktif untuk turun ke pelosok Desa untuk melaksanakan pemeriksaan dan vaksinasi AI, mungkin masyarakat bisa lebih pulas tidur tanpa harus merasa takut akan virus flu burung yang bergentayangan.

0 komentar: